Korban KM Arupadhatu 1 Teridentifikasi, Andra Soni: Pemprov Terus Dampingi Keluarga

4 Menit Baca

SERANG, katamedia.co.id – Gubernur Banten Andra Soni menyampaikan belasungkawa atas teridentifikasinya jenazah Surakman (60), salah satu Anak Buah Kapal (ABK) KM Arupadhatu 1 yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda.

Andra mengatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten bersama Polda Banten akan terus memberikan pendampingan kepada keluarga Surakman. Pendampingan tersebut dilakukan sejak proses pemulangan jenazah hingga pelaksanaan pemakaman.

“Atas nama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten, kami menyampaikan belasungkawa. Semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan kekuatan dan keikhlasan,” kata Andra saat menghadiri konferensi pers Operasi SAR Pencarian Korban Erupsi Gunung Anak Krakatau di Mapolda Banten, Kota Serang, Rabu (23/9/2026).

Menurut Andra, pihaknya akan terus menyampaikan setiap perkembangan kepada keluarga korban. Pemprov Banten juga memastikan dukungan terhadap seluruh proses pemulangan jenazah Surakman dari Bengkulu ke Banten.

“Insyaallah, kita bersama Polda Banten akan terus mendampingi keluarga dan menginformasikan setiap perkembangan yang ada. Kita juga akan mendukung penuh proses pemulangan jenazah dan pemakamannya,” ujarnya.

Baca Juga :  Ojol Jadi Perhatian, Gubernur Banten Siapkan Sejumlah Kebijakan

Andra juga menyampaikan harapan agar tujuh korban lainnya yang hingga kini belum ditemukan dapat segera mendapatkan titik terang. Ia mengajak masyarakat untuk turut mendoakan para korban dan keluarga yang masih menunggu kepastian.

“Kepada keluarga dari tujuh korban yang belum ditemukan, semoga kita segera mendapatkan titik terang dan akan terus diinformasikan. Kita berharap dan senantiasa berdoa untuk segera menemukan saudara-saudara kita,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Andra turut mengapresiasi jajaran Polda Banten, Polda Bengkulu, tim SAR gabungan, serta para relawan yang terlibat dalam pencarian dan proses identifikasi korban.

KM Arupadhatu 1 sebelumnya membawa lima jurnalis dan tiga kru kapal. Kapal tersebut berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, dan dilaporkan hilang kontak sejak 7 September 2026 saat membawa rombongan untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Baca Juga :  Buka Puasa Bersama FPRMI di Jaksel, Perkuat Soliditas Pimpinan Redaksi Multimedia

Jenazah Surakman ditemukan di perairan sekitar Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada 12 September 2026. Saat ditemukan, jenazah belum diketahui identitasnya dan memiliki sejumlah ciri fisik, di antaranya mengenakan celana pendek berwarna hitam dengan tinggi sekitar 163 sentimeter.

Proses identifikasi kemudian dilakukan melalui koordinasi Polda Banten dan Polda Bengkulu. Tim Disaster Victim Identification (DVI) menggunakan data antemortem dari keluarga para korban untuk memastikan identitas jenazah.

Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki menjelaskan, pemeriksaan dilakukan berdasarkan sejumlah data primer, yakni sidik jari, data gigi, dan DNA.

“Dari delapan keluarga korban, pada satu jenazah telah dilakukan pemeriksaan oleh Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri melalui Kepala Bidang Laboratorium DNA,” jelas Hengki.

Baca Juga :  Andra Soni Raih Disway Top Regional Leader Awards 2026 Berkat Komitmen Wujudkan Pendidikan Inklusif

Hasil pemeriksaan tersebut memastikan jenazah yang ditemukan di Bengkulu merupakan Surakman. Hasil pemeriksaan genetik juga mengonfirmasi hubungan biologis Surakman dengan putra kandungnya, Yayat.

Jenazah Surakman dijadwalkan diterbangkan dari Bengkulu menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Kamis (24/9/2026). Jenazah rencananya akan diterima langsung oleh Gubernur Banten bersama Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banten.

Sementara itu, Kepala Kantor Basarnas Banten Al Amrad mengatakan meski operasi pencarian resmi telah ditutup setelah berlangsung selama 10 hari, koordinasi dan pemantauan tetap dilakukan.

Basarnas Banten masih berkomunikasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Lampung untuk memantau wilayah pesisir. Pemantauan juga melibatkan nelayan setempat, termasuk di wilayah perairan Lebak.

Upaya tersebut dilakukan untuk mendapatkan informasi apabila terdapat temuan yang berkaitan dengan tujuh korban lainnya yang masih belum ditemukan.

*Hadi*

Bagikan Artikel Ini