Kisah Sarbini, Buruh Harian yang Tak Lagi Waswas Soal Biaya Pendidikan Anak Berkat Program Sekolah Gratis

4 Menit Baca

SERANG, katamedia.co.id – Setiap memasuki tahun ajaran baru, Sarbini (47) selalu dihantui kekhawatiran mengenai biaya pendidikan anak-anaknya. Sebagai buruh harian lepas asal Kampung Sindang Mandi, Desa Panyerapan, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, penghasilannya tidak pernah menentu. Namun kini, kecemasan itu perlahan sirna setelah putranya, Nabil Ilham Maulana (15), diterima di SMK Nurul Huda Baros melalui Program Sekolah Gratis Pemerintah Provinsi Banten.

Program yang digagas Gubernur Banten Andra Soni tersebut menjadi angin segar bagi keluarga Sarbini. Bukan hanya membebaskan biaya SPP, program itu juga membuka harapan agar anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, SMK, maupun SKh swasta.

Selama ini, Sarbini mengandalkan pekerjaan serabutan untuk menghidupi keluarganya. Ia terkadang bekerja sebagai kuli bangunan, memperbaiki instalasi listrik, hingga mengelas. Namun, pekerjaan itu tidak selalu tersedia sehingga penghasilannya sering kali tidak mencukupi untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan.

Baca Juga :  Gubernur Andra Soni Minta Jajaran Pemprov Banten Responsif terhadap Keluhan dan Kebutuhan Warga

“Sebelum ada Program Sekolah Gratis, saya merasa berat. Saya punya tiga anak. Yang pertama masuk SMK, yang kedua SMP, dan yang ketiga SD. Adanya program ini, masya Allah Pak, saya lega dan sangat terbantu. Sekarang tinggal mikirin kebutuhan alat tulis saja,” ujar Sarbini saat ditemui di SMK Nurul Huda Baros, Kabupaten Serang, Rabu (15/7/2026).

Ia mengungkapkan, sebagai buruh harian lepas dirinya tidak memiliki penghasilan tetap. Bahkan, setelah bekerja selama beberapa hari, ia bisa kembali menganggur hingga berbulan-bulan.

“Pekerjaan saya tidak setiap hari ada. Kadang kerja seminggu, setelah itu bisa menganggur sampai tiga bulan. Jadi uang yang tadinya buat bayar SPP sekarang bisa ditabung untuk kebutuhan pendidikan anak ke depan,” katanya.

Baca Juga :  Korupsi pengadaan barang dan jasa di Pemprov Banten Dicegah, Koordinasi dengan KPK Diperkuat

Kondisi ekonomi tersebut sempat membuat Sarbini khawatir ketika putranya memilih melanjutkan pendidikan di sekolah swasta. Meski demikian, ia tidak pernah mematahkan semangat anaknya yang sejak awal memang bercita-cita bersekolah di SMK Nurul Huda Baros.

“Ya, kepikiran. Saya sempat khawatir bagaimana nanti bayarnya. Soalnya pekerjaan saya serabutan, kadang jadi tukang, kadang ngelas. Apa saja yang penting halal,” tuturnya.

Kini, Nabil resmi menjadi siswa kelas X Jurusan Teknik Listrik. Sarbini berharap pendidikan dapat menjadi jalan bagi putranya untuk meraih masa depan yang lebih baik dibandingkan dirinya.

“Saya selalu bilang, cari uang itu susah. Sekolah yang benar, jangan ikut tawuran atau pergaulan yang tidak baik. Saya pernah merasakan masa muda yang salah, dan saya tidak ingin anak saya mengulanginya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pemprov Banten–DKI Jakarta Bersinergi Atasi Banjir dan Pengelolaan Sampah

Sarbini juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Gubernur Banten Andra Soni dan Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah atas Program Sekolah Gratis yang dinilai telah meringankan beban masyarakat berpenghasilan rendah.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Andra Soni dan Pak Dimyati. Kalau tidak ada program ini, saya pasti masih waswas karena pekerjaan saya buruh harian lepas, kadang ada kerjaan, kadang lebih banyak menganggur,” ujarnya.

Ia berharap Program Sekolah Gratis dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak keluarga dengan kondisi ekonomi serupa yang merasakan manfaatnya. Bahkan, ia berharap suatu saat bantuan pendidikan juga dapat menjangkau jenjang perguruan tinggi.

“Kalau bisa program ini diteruskan. Syukur-syukur sampai perguruan tinggi juga ada bantuan. Saya ingin anak saya sekolah setinggi mungkin, lebih baik daripada orang tuanya,” pungkasnya.

*Hadi*

Bagikan Artikel Ini