TANGERANG SELATAN, katamedia.co.id -Anak-anak penyandang cerebral palsy memiliki hak yang sama untuk memperoleh kasih sayang, pendidikan, layanan kesehatan, serta kesempatan mengembangkan kemampuan dan meraih cita-cita. Kondisi yang mereka alami tidak seharusnya menjadi penghalang untuk menentukan masa depan.
Pesan tersebut disampaikan Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial RI, Fatma Saifullah Yusuf, saat membuka peringatan *World Cerebral Palsy Day 2026* yang diselenggarakan Yayasan Rumah Cerebral Palsy di Atrium Mall Teras Kota, Serpong, Tangerang Selatan, Minggu (25/10/2026).
Mengusung tema *Unique and United*, kegiatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa setiap anak memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda, tetapi tetap berhak memperoleh kesempatan yang setara untuk tumbuh dan berkembang.
Dalam sambutannya, Fatma menekankan bahwa cerebral palsy merupakan bagian dari perjalanan hidup anak, bukan batas yang menentukan kemampuan maupun masa depan mereka.
Menurutnya, anak-anak penyandang cerebral palsy harus mendapatkan ruang untuk belajar, bermain, berkarya, serta berpartisipasi dalam kehidupan sosial tanpa dibatasi oleh kondisi fisik yang dimiliki.
“Anak-anak dengan cerebral palsy memiliki cara yang berbeda dalam bergerak, berkomunikasi, atau menjalani keseharian. Namun, mereka memiliki hak yang sama untuk dicintai, dilindungi, belajar, bermain, bermimpi, dan juga menentukan masa depannya,” kata Fatma.
Ia menegaskan, dukungan terhadap anak penyandang disabilitas perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dan berkelanjutan, bukan hanya melalui kegiatan peringatan atau kepedulian sesaat.
Akses terhadap layanan kesehatan, terapi dan rehabilitasi, pendidikan inklusif, serta fasilitas publik yang ramah disabilitas menjadi sejumlah hal penting yang perlu diperkuat agar anak-anak dapat mengembangkan potensinya secara optimal.
Fatma juga mengajak pemerintah, tenaga profesional, komunitas, keluarga, dunia usaha, dan media untuk berkolaborasi menciptakan lingkungan yang memberikan kesempatan setara bagi penyandang disabilitas.
Menurutnya, sikap inklusif tidak cukup hanya dengan menerima perbedaan. Masyarakat juga perlu menghargai kemampuan, mendengarkan suara, mengakui pencapaian, serta memberikan ruang bagi setiap anak untuk menunjukkan potensi terbaiknya.
Apresiasi Perjuangan Orang Tua
Dalam kesempatan tersebut, Fatma turut memberikan penghargaan kepada para orang tua yang mendampingi anak-anak penyandang cerebral palsy.
Ia memahami bahwa proses mendampingi tumbuh kembang anak membutuhkan kesabaran, ketekunan, serta dukungan emosional yang tidak selalu terlihat oleh masyarakat.
Karena itu, ia mengingatkan para orang tua agar saling menguatkan dan tidak merasa harus menghadapi berbagai tantangan seorang diri.
“Perjuangan ini tidak harus dijalankan sendirian. Tentunya kita semua memiliki tanggung jawab yang sama. Negara hadir, mendukung, dan berjalan bersama-sama,” ujarnya.
Fatma berharap keluarga penyandang disabilitas memperoleh dukungan yang memadai dari berbagai pihak, sehingga mereka dapat menjalani proses pendampingan anak dengan lebih baik.
Ia menilai keterlibatan pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk memastikan kebutuhan anak dan keluarga dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
Anak Cerebral Palsy Berhak Meraih Cita-Cita
Fatma juga menyampaikan pesan kepada anak-anak penyandang cerebral palsy agar tetap percaya diri, berani bermimpi, dan tidak merasa harus menjadi seperti orang lain untuk menunjukkan keistimewaan mereka.
Menurutnya, setiap anak mempunyai potensi yang dapat dikembangkan apabila memperoleh dukungan, kesempatan, dan lingkungan yang tepat.
“Anak-anak cerebral palsy tidak harus menjadi seperti orang lain untuk menjadi luar biasa. Jadilah diri sendiri, terus bermimpi, dan tumbuh dengan keyakinan bahwa anak-anak cerebral palsy layak dicintai dan didukung sepenuh hati,” tuturnya.
Ia menambahkan, keberhasilan membangun masyarakat yang inklusif tidak diukur dari keseragaman setiap individu, melainkan dari kemampuan masyarakat dalam menghargai perbedaan dan memberikan kesempatan bagi semua orang untuk berkembang.
Yayasan Rumah Cerebral Palsy Perkuat Kepedulian
Peringatan *World Cerebral Palsy Day 2026* yang digelar Yayasan Rumah Cerebral Palsy menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman publik mengenai hak, kebutuhan, dan potensi anak penyandang cerebral palsy.
Yayasan Rumah Cerebral Palsy merupakan komunitas orang tua yang memiliki anak dengan cerebral palsy. Kehadiran komunitas ini menjadi ruang untuk memperkuat dukungan antar keluarga sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap tantangan yang dihadapi anak penyandang disabilitas.
Fatma berharap peringatan tahunan tersebut dapat mendorong perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan keluarga hingga ruang publik.
Semangat *Unique and United* diharapkan menjadi pengingat bahwa perbedaan bukan alasan untuk memisahkan atau membatasi kesempatan seseorang dalam menjalani kehidupan.
“Berbeda bukan berarti terpisah, unik bukan berarti sendiri, dan keterbatasan bukan alasan untuk membatasi harapan,” tegasnya.
Melalui momentum ini, dukungan terhadap anak penyandang cerebral palsy diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi diwujudkan melalui akses layanan yang lebih baik, pendidikan yang inklusif, serta penerimaan sosial yang semakin luas.
Dengan dukungan keluarga, pemerintah, komunitas, dan masyarakat, anak-anak penyandang cerebral palsy diharapkan dapat tumbuh dengan percaya diri, mengembangkan kemampuan, meraih cita-cita, dan menjalani kehidupan yang bermartabat.
*Hadi*




