SERPONG, katamedia.co.id – Peringatan World Cerebral Palsy Day 2026 yang diselenggarakan Yayasan Rumah Cerebral Palsy menjadi momentum untuk memperkuat peran keluarga dalam mendampingi anak penyandang cerebral palsy (CP), sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap kebutuhan dan potensi mereka.
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (25/10/2026) di Atrium Mall Tert,as, Serpong, Tangerang Selatan, menghadirkan rangkaian edukasi, diskusi kesehatan, serta aktivitas yang melibatkan orang tua dan anak dengan cerebral palsy.
Acara ini direncanakan dibuka oleh Fatma Saifullah Yusuf, selaku Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial.
Yayasan Rumah Cerebral Palsy merupakan komunitas yang menjadi wadah bagi para orang tua dengan anak penyandang CP untuk saling berbagi pengalaman, memperoleh informasi, dan membangun dukungan dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah talkshow bertajuk “Apakah Anak CP Bisa Bebas dari Kejang?” yang menghadirkan Prof. Dr. dr. Setyo Handryastuti, Sp.A(K).
Diskusi ini mengangkat persoalan kejang yang dapat dialami sebagian anak dengan cerebral palsy. Melalui pembahasan tersebut, orang tua diharapkan semakin memahami kondisi anak, mengenali kebutuhan penanganan, serta mengetahui pentingnya berkonsultasi dengan tenaga medis untuk memperoleh perawatan yang sesuai.
Selain kesehatan anak, perhatian juga diberikan terhadap kondisi psikologis orang tua yang menjalani proses pengasuhan. Hal ini dibahas dalam talkshow bertajuk “Merawat Diri Sendiri di Tengah Perjuangan Mendampingi Anak Cerebral Palsy” bersama Gloria Siagian, M.Psi., Psikolog.
Dalam mendampingi anak dengan kebutuhan khusus, orang tua kerap menghadapi berbagai tantangan yang membutuhkan kesiapan fisik dan emosional. Karena itu, menjaga kesehatan mental serta memberikan ruang bagi diri sendiri menjadi bagian penting agar orang tua dapat terus memberikan pendampingan secara optimal.
Kegiatan World Cerebral Palsy Day 2026 juga diisi dengan penampilan orang tua bersama anak penyandang CP serta berbagai perlombaan yang melibatkan keduanya.
Melalui aktivitas tersebut, keluarga mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuan, mengekspresikan diri, dan membangun kebersamaan. Keterlibatan anak dalam kegiatan sosial juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih terbuka dan ramah bagi penyandang disabilitas.
Cerebral palsy merupakan kondisi yang memengaruhi gerakan dan postur tubuh akibat gangguan pada otak yang sedang berkembang. Tingkat dampaknya berbeda pada setiap individu, mulai dari gangguan gerak ringan hingga kondisi yang memerlukan bantuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Sebagian anak dengan cerebral palsy juga dapat mengalami kondisi penyerta, seperti epilepsi atau kejang, gangguan komunikasi, dan kesulitan menelan. Oleh sebab itu, dukungan keluarga, akses terhadap layanan kesehatan, serta pendampingan sesuai kebutuhan menjadi hal penting dalam menunjang kualitas hidup mereka.
Selain itu, kesempatan memperoleh pendidikan inklusif dan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat perlu terus diperkuat. Anak dengan cerebral palsy memiliki kemampuan dan potensi yang beragam sehingga tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan keterbatasan fisik yang dialami.
Melalui peringatan World Cerebral Palsy Day 2026, Yayasan Rumah Cerebral Palsy mendorong penguatan dukungan bagi keluarga sekaligus memperluas kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penerimaan dan inklusi.
Momentum ini diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian bahwa mendampingi anak dengan cerebral palsy bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga, melainkan juga membutuhkan dukungan lingkungan sosial agar mereka memiliki kesempatan yang setara untuk tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.
*Hadi*




