PANDEGLANG, katamedia.co.id – Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah menegaskan tradisi Ngadu Bedug sebagai budaya khas masyarakat Pandeglang harus terus dilestarikan di tengah perkembangan zaman. Hal itu disampaikannya saat membuka Gebrag Ngadu Bedug 2026 di Alun-alun Pandeglang, Jumat (29/5/2026).
Kegiatan budaya yang berlangsung pada 29–31 Mei 2026 tersebut dihadiri ribuan warga yang memadati Alun-alun Pandeglang. Gebrag Ngadu Bedug 2026 kembali masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) selama dua tahun berturut-turut, sebagai salah satu agenda budaya unggulan yang memperkuat identitas daerah.
Mengusung tema “Tang Ting Tung Dong, Warna Bunyi dalam Jerami”, kegiatan ini menjadi ajang berkumpulnya seniman, komunitas budaya, pelaku ekonomi kreatif, hingga komposer dari berbagai daerah dalam sebuah perayaan budaya masyarakat yang meriah.
Dalam sambutannya, Dimyati mengapresiasi sanggar seni dan Kampung Bedug yang selama ini terus menjaga tradisi tersebut agar tetap hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, bedug bukan sekadar alat bunyi, tetapi bagian dari identitas budaya masyarakat Pandeglang yang dikenal sebagai daerah religius, seribu ulama dan sejuta santri.
“Kalau tidak kita pertahankan, identitas kita bisa hilang. Bedug adalah salah satu identitas budaya yang harus terus kita jaga,” ujar Dimyati.
Ia menilai tantangan menjaga budaya semakin besar di tengah modernisasi. Karena itu, tradisi Ngadu Bedug harus diwariskan kepada generasi muda agar tetap hidup, berkembang, dan tidak hilang ditelan zaman.
Selain menjadi ajang pelestarian budaya, Dimyati menilai Gebrag Ngadu Bedug juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Kehadiran ribuan pengunjung dinilai mampu menggerakkan UMKM, perdagangan, ekonomi kreatif, hingga sektor pariwisata lokal.
Dimyati juga menegaskan masuknya Gebrag Ngadu Bedug ke dalam Karisma Event Nusantara merupakan prestasi penting bagi Kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten. Menurutnya, kegiatan tersebut harus terus dijaga dan dilaksanakan setiap tahun.
“Karena sudah masuk KEN, event ini tidak boleh berhenti. Harus terus dilaksanakan dan dikembangkan setiap tahun,” tegasnya.
Sebanyak 20 Kampung Bedug dari berbagai wilayah di Pandeglang ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Antusiasme masyarakat terlihat sejak pembukaan acara, salah satunya Mardatillah Nabila (16), pelajar asal Kadulisung yang datang bersama teman-temannya setelah mengetahui informasi kegiatan melalui media sosial.
Ia mengaku tertarik datang karena ingin mengenal budaya daerahnya lebih dekat sekaligus menambah pengetahuan tentang tradisi masyarakat Pandeglang.
Sementara itu, peserta dari Kampung Cilaja juga menunjukkan semangat menjaga tradisi. Koordinator kelompok, Mustori (40), mengatakan persiapan menghadapi Gebrag Ngadu Bedug 2026 dilakukan sejak jauh hari melalui latihan rutin yang diperpadat menjelang perlombaan.
Menurut Mustori, tradisi bedug di Kampung Cilaja awalnya digunakan untuk kegiatan keagamaan di masjid, terutama saat Ramadan dan malam takbiran, sebelum berkembang menjadi bagian dari kesenian budaya masyarakat.
Saat ini kelompok bedug Kampung Cilaja diperkuat sekitar 35 personel yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dari berbagai kelompok usia. Regenerasi terus dilakukan agar tradisi tersebut tetap lestari.
Mustori juga mengaku bangga atas capaian Kampung Cilaja yang berhasil meraih Juara I Gebrag Ngadu Bedug 2025. Prestasi itu menjadi motivasi bagi seluruh anggota untuk terus berlatih dan mempertahankan warisan budaya leluhur.
Pembukaan Gebrag Ngadu Bedug 2026 turut dihadiri Komisaris Utama Indonesia Tourism Development Corporation Irna Narulita, Asisten Deputi Pemasaran KEN Kementerian Pariwisata Erwita Dianti, serta Bupati Pandeglang Dewi Setiani.
Selama tiga hari pelaksanaan, dentuman bedug dari berbagai kampung di Pandeglang akan terus menggema sebagai simbol bahwa tradisi warisan leluhur tetap hidup, berkembang, dan terus dijaga di tengah perubahan zaman.
*Hadi*




