Kembang Pucuk Bordir Ny. Kadek Ariasih, UMKM Persit Yonzipur 18 Hadirkan Kebaya Bordir Elegan Bernilai Budaya

4 Menit Baca

Denpasar –Rabu 08/04/2026  Kebaya sebagai salah satu pakaian nasional perempuan Indonesia memiliki nilai budaya dan estetika yang tinggi. Khusus di Bali, kebaya bukan hanya busana nasional, tetapi juga menjadi bagian penting dari pakaian adat yang dikenakan dalam berbagai upacara keagamaan.

Seiring perkembangan zaman dan tren mode, kebaya Bali terus mengalami transformasi dari sisi desain, motif, hingga warna yang semakin modern tanpa meninggalkan unsur kesopanan dan nilai tradisi. Perubahan tersebut didorong kebutuhan masyarakat untuk tampil menarik sekaligus nyaman dalam berbusana.

Tak hanya digemari kalangan remaja, perempuan dewasa hingga lanjut usia pun kini semakin selektif memilih kebaya yang sesuai karakter dan kebutuhan mereka. Salah satu model yang kini semakin diminati ialah kebaya bordir, yang menawarkan keindahan motif dengan desain fleksibel dan elegan.

Baca Juga :  KADIN Tangsel dan Pemkot Tangsel Bersinergi, Pilar Saga Ichsan Sambut Kemitraan Strategis

Melihat peluang tersebut, Ny. Kadek Ariasih, anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XLI Yonzipur 18 PD IX/Udayana, merintis usaha “Kembang Pucuk Bordir” sejak tahun 2010. Berawal dari seorang ibu rumah tangga, ia bertekad membantu perekonomian keluarga melalui usaha produksi kain kebaya bordir.

Dengan modal awal enam mesin bordir dan lima tenaga kerja yang bekerja dari rumah masing-masing, usaha ini dijalankan dengan sistem sederhana namun efektif.

Dalam strategi pemasaran, Kembang Pucuk Bordir menerapkan metode “jemput bola”, yakni mendatangi langsung konsumen karena belum memiliki tempat usaha tetap. Berkat kegigihan tersebut, produknya kini telah menjangkau berbagai daerah di Bali.

Tak hanya itu, Kembang Pucuk Bordir juga pernah mengikuti berbagai bazar di Bandung dan Jakarta serta rutin tampil dalam pameran di Art Center Denpasar. Promosi usaha turut diperluas melalui media sosial Instagram @kembang_pucuk_bordir, sekaligus membangun hubungan industrial guna mendukung keberlangsungan usaha.

Baca Juga :  Menhan Tinjau Fasilitas Manufaktur Mobil Nasional di Subang

Dalam satu bulan, usaha ini mampu memproduksi rata-rata 50 lembar kain kebaya bordir. Seluruh proses produksi masih menggunakan peralatan sederhana, dimulai dari pembuatan desain, pola, hingga tahap pembordiran.

Proses pengerjaan diawali dengan membuat pola yang kemudian disablon menggunakan campuran talek dan air, sebelum dibordir memakai mesin khusus dengan benang sutera. Untuk menghasilkan satu produk kebaya bordir berkualitas, dibutuhkan waktu pengerjaan sekitar tiga hingga empat minggu.

Permintaan kebaya bordir pun terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu terlihat dari semakin banyaknya perempuan Bali yang mengenakan kebaya bordir dalam berbagai kegiatan adat maupun upacara keagamaan.

Baca Juga :  Patroli Dialogis di Pasar Kediri, Polres Tabanan Jaga Keamanan dan Kelancaran Lalu Lintas

Keunggulan kebaya bordir terletak pada keindahan motif flora dan fauna yang beragam, dipadukan dengan kombinasi warna yang hidup sehingga menciptakan tampilan anggun dan menarik.

Meski aktif menjalankan usaha, Ny. Kadek Ariasih tetap mampu menyeimbangkan perannya sebagai ibu rumah tangga sekaligus anggota Persit. Baginya, keluarga tetap menjadi prioritas utama di tengah kesibukan mengembangkan usaha.

Dedikasi dan semangatnya diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi anggota Persit Kartika Chandra Kirana lainnya untuk berani memulai usaha dari rumah dan terus berinovasi.

Kembang Pucuk Bordir menjadi bukti nyata bahwa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), apabila dikelola dengan tekun, inovatif, dan penuh komitmen terhadap kualitas, mampu memberikan kontribusi besar bagi perekonomian keluarga maupun masyarakat sekitar.

*Red*

DITANDAI:
Bagikan Artikel Ini