Banten Tembus Delapan Besar Lumbung Beras Nasional, Andra Soni Apresiasi Kinerja Petani

4 Menit Baca

Serang Banten, katamedia.co.id — Provinsi Banten berhasil menembus peringkat delapan besar nasional sebagai lumbung beras, sekaligus memperkuat posisinya sebagai daerah dengan ketahanan pangan yang tangguh.

Gubernur Banten Andra Soni mengapresiasi kinerja para petani yang dinilai berperan besar dalam mendorong peningkatan produksi padi di wilayah tersebut. Pada tahun 2025, luas panen padi di Provinsi Banten mencapai 345.421 hektare dengan total produksi sebesar 1,8 juta ton.

Capaian tersebut menempatkan Banten sebagai salah satu daerah penghasil beras utama di Indonesia serta menunjukkan konsistensi dalam menjaga Indeks Ketahanan Pangan selama enam tahun berturut-turut.

Hal itu disampaikan Andra Soni saat menghadiri kegiatan Tanam Perdana Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang diinisiasi Kementerian Pertanian di Kelurahan Margaluyu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Selasa (5/5/2026).

Baca Juga :  Garuda Astacita Nusantara Banten Dorong Program Ketahanan Pangan Lewat Ketahanan Pakan Alternatif

Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari kerja keras petani serta dukungan pemerintah dalam mendorong modernisasi sektor pertanian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan di Banten mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 9,60 persen.

Ia menjelaskan, penerapan sistem pertanian modern mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan, dari kisaran 3,25–4,5 ton per hektare menjadi 5,1–7,5 ton per hektare, bahkan berpotensi mencapai 10 ton per hektare pada kondisi optimal.

Selain itu, mekanisasi pertanian dinilai mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan kesejahteraan petani. Peningkatan produksi tersebut juga diproyeksikan dapat mendukung kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sekitar 3,5 juta penerima manfaat di Banten, di mana sekitar 85 persen kebutuhannya berasal dari sektor pertanian dan peternakan.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian, Husnain, menjelaskan bahwa sistem PM-AAS merupakan model pertanian modern berbasis teknologi presisi yang diadopsi dari praktik pertanian di Arkansas, Amerika Serikat. Sistem ini menerapkan metode tanam yang lebih rapat sehingga meningkatkan populasi tanaman dan hasil produksi.

Baca Juga :  OmaBebikinan Hadirkan Kelas Lukis sebagai Ruang Kreatif dan Ekspresi Seni

Saat ini, program percontohan PM-AAS dilaksanakan di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, seluas 100 hektare sebagai bagian dari 15 lokasi percontohan di 14 provinsi. Sebelumnya, program serupa telah diterapkan di Luwu, Sulawesi Selatan, dan Sukamandi, Subang, Jawa Barat.

Kepala Wilayah Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Banten, Andry Polos, menyampaikan bahwa sistem ini mengedepankan enam prinsip utama, yakni tanam rapat dalam baris, efisiensi berbasis digital, mekanisasi, skala luas, intensifikasi produksi, serta pendekatan spesifik lokasi, dengan target produksi mencapai 10 ton per hektare.

Baca Juga :  Qur'ani Impact Training Banten Cetak 1.000 Duta Al-Qur'an Menuju Indonesia Emas 2045

Respons petani terhadap program tersebut juga sangat positif. Ketua Kelompok Tani Masyarakat Guyub 1, Andi Kamal, menyebutkan bahwa mekanisasi dan digitalisasi mampu memangkas biaya tanam secara signifikan, dari sekitar Rp2 juta per hektare dengan metode manual menjadi sekitar Rp200 ribu per hektare menggunakan alat mesin.

Ia menambahkan, penggunaan teknologi menjadi solusi atas keterbatasan tenaga kerja di sektor pertanian, terutama karena semakin berkurangnya minat generasi muda untuk terjun ke bidang tersebut.

Sebagai informasi, percontohan PM-AAS di Banten dilaksanakan di empat titik seluas 100 hektare dengan melibatkan empat kelompok tani dan total 90 anggota. Saat ini, produktivitas lahan berada di kisaran 6 hingga 6,5 ton per hektare dengan menggunakan benih varietas Inpari 32.

*Hadi*

Bagikan Artikel Ini