Serang Banten– Pemerintah Provinsi Banten bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat literasi keuangan di kalangan generasi muda guna mencegah mahasiswa terjebak dalam praktik keuangan ilegal seperti investasi bodong dan pinjaman online ilegal.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Kuliah Umum Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu 2026 yang diinisiasi OJK Provinsi Banten dan diikuti lebih dari 1.500 mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) di Auditorium Kampus Sindangsari, Kabupaten Serang, Kamis (9/4/2026).
Dalam kegiatan itu, Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi Banten Rina Dewiyanti yang mewakili Gubernur Banten Andra Soni menegaskan bahwa rendahnya tingkat literasi keuangan masyarakat masih menjadi celah bagi praktik investasi ilegal yang merugikan masyarakat.
Menurut Rina, literasi keuangan tidak hanya mencakup pengetahuan semata, tetapi juga keterampilan serta keyakinan dalam mengelola keuangan secara bijak agar mampu mengambil keputusan finansial yang tepat.
“Literasi keuangan masyarakat kita masih perlu ditingkatkan. Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab melalui investasi bodong. Mahasiswa perlu mulai menabung, memiliki aset, berinvestasi, hingga menciptakan sumber pendapatan pasif sebagai langkah menuju kemandirian finansial,” ujar Rina.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengungkapkan bahwa tingkat literasi pasar modal di Indonesia masih tergolong rendah. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025, literasi pasar modal baru mencapai 17,78 persen.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah tergiur tawaran keuntungan tinggi dalam waktu singkat yang kerap menjadi ciri investasi ilegal.
“Masih banyak masyarakat, termasuk mahasiswa, yang belum memahami investasi secara benar. Yang terlihat terlalu menggiurkan justru sering menjadi jebakan. Ini yang harus diwaspadai generasi muda,” kata Hasan.
Hasan menambahkan, maraknya kasus investasi ilegal dan pinjaman online ilegal menjadi bukti bahwa edukasi keuangan harus terus diperkuat, khususnya di lingkungan perguruan tinggi.
Di sisi lain, Rektor Untirta Fatah Sulaiman menilai pemahaman mengenai pasar modal kini menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa di era digital dan global. Untirta pun berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kecakapan literasi finansial yang aplikatif.
“Mahasiswa perlu melek digital, mampu merencanakan keuangan sejak dini, serta memahami investasi jangka panjang sebagai bekal masa depan,” ujarnya.
Fatah juga menyampaikan apresiasi atas inisiatif OJK dalam memberikan edukasi pasar modal kepada mahasiswa.
“Kami menyambut baik inisiatif OJK dan siap memperkuat kolaborasi agar edukasi yang diberikan tidak hanya teoritis, tetapi juga relevan dengan kebutuhan dunia nyata,” pungkasnya.
*Hadi*




