Gubernur Andra Soni Terima Amanat Pelestarian Alam dari Warga Adat Baduy pada Seba Baduy 2026

3 Menit Baca

Serang Banten – Gubernur Banten Andra Soni menerima amanat pelestarian alam dari 1.552 masyarakat adat Baduy dalam prosesi Seba Baduy 2026 yang berlangsung di Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Sabtu (25/4/2026) malam. Amanat tersebut disampaikan melalui Jaro Pamarentah, perwakilan masyarakat Baduy yang bertugas menjalin hubungan dengan pemerintah.

Dalam pertemuan tersebut, masyarakat Baduy menyampaikan persoalan lingkungan di wilayah Kanekes serta pesan leluhur yang terus dijaga secara turun-temurun, yakni gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak, yang berarti gunung jangan dihancurkan dan lembah jangan dirusak.

Andra Soni menegaskan, Pemerintah Provinsi Banten akan terus membangun komunikasi dengan masyarakat adat Baduy, tidak hanya melalui momentum Seba Baduy, tetapi juga melalui koordinasi berkelanjutan.

Baca Juga :  MTQ Nasional XXXI, Andra Soni Bangga 19 Dewan Hakim Asal Banten

“Komunikasi terus kita bangun. Melalui Jaro Pamarentah, mereka selalu menyampaikan hal-hal yang perlu dilaporkan. Kami berterima kasih kepada masyarakat adat Kanekes yang setia kepada pemerintah dan terus memberikan masukan, salah satunya dalam menjaga alam,” ujar Andra Soni.

Pemprov Banten juga akan menindaklanjuti aspirasi masyarakat Baduy, termasuk rencana ritual pelestarian alam di kawasan Sanghyang Sirah dan Gunung Honje, dengan berkoordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang.

“Melalui Dinas Lingkungan Hidup, kita akan berkoordinasi dengan Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang terkait apa yang disampaikan. Termasuk harapan mereka untuk melaksanakan ritual di Sanghyang Sirah dan Gunung Honje melalui kegiatan Ngaraksa Gunung Ngarawat Alam,” tambahnya.

Baca Juga :  Gubernur Andra Soni Optimistis Anyer-Carita Kembali Jadi Magnet Wisata Banten

Sementara itu, Kepala Desa Kanekes sekaligus Jaro Pamarentah, Jaro Oom, menjelaskan bahwa Seba Baduy merupakan bagian dari rangkaian adat pascapanen dan prosesi Ngalaksa. Kehadiran masyarakat Baduy menghadap Gubernur sebagai Bapak Gede bertujuan menyampaikan amanat menjaga keselarasan antara manusia dan alam.

“Kami melaksanakan tradisi ini karena bagi masyarakat Baduy, menjaga amanah adalah hal utama. Amanah ini kami sampaikan kepada pemerintah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, sesuai titipan lembaga adat dan instruksi Puun,” ujarnya.

Ia menambahkan, wilayah yang menjadi perhatian pelestarian meliputi Sanghyang Sirah, Ujung Kulon, Gunung Honje, Panaiban, Ujung Genteng, Tanjung Lesung, Muara Tilu, Karang Bokor, Lawang Seketeng, Gunung Karang, Gunung Badag (Gunung Gede, Jawa Barat), Gunung Sanggabuana (Jawa Barat), hingga Gunung Liman di Jawa Timur.

Baca Juga :  Camat Ciputat Timur Dorong Pembinaan Fisik Satpol PP untuk Jaga Kedisiplinan dan Kebugaran

“Kami menegaskan komitmen untuk terus ngeraksa dan menjalankan aturan adat. Kami menjalankan ritual sakral untuk menyelamatkan gunung, sungai, dan hutan. Kami ngaraksa gunung ngarawat alam,” tegasnya.

Jaro Oom juga menyampaikan rencana pelaksanaan ritual perawatan alam di sejumlah titik di luar wilayah ulayat Baduy, seperti Sanghyang Sirah dan Gunung Honje. Ritual tersebut akan dilaksanakan secara rutin sebagai bentuk komitmen menjaga keseimbangan lingkungan.

*Red*

DITANDAI:
Bagikan Artikel Ini