Lombok. – Rabu 08/04/2026 -Tas ketak menjadi salah satu warisan budaya unggulan dari Nusa Tenggara Barat yang telah menembus pasar dunia, sejajar dengan tenun dan mutiara khas Lombok. Berakar dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun, anyaman ketak bukan sekadar produk kerajinan, tetapi representasi identitas budaya yang tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Ketak berasal dari ranting tanaman merambat yang dikeringkan, kemudian dianyam secara manual oleh tangan-tangan terampil para perajin. Dari proses tradisional tersebut lahirlah produk dengan tekstur kuat, warna cokelat alami, serta karakter khas yang sulit ditiru. Selain diolah menjadi tas, anyaman ketak juga dimanfaatkan sebagai elemen dekoratif interior, pelengkap meja makan, hingga aksesori gaya hidup modern yang mengusung konsep ramah lingkungan dan estetika etnik.
Inovasi menjadi kunci penting dalam menjaga eksistensi kerajinan tradisional ini. Melalui Galeri Wira Bhakti 162, anggota Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 162 PD IX/Udayana menghadirkan terobosan kreatif dengan memadukan tas ketak tradisional bersama sentuhan modern.
Kolaborasi unik tersebut memanfaatkan pilinan tali kresek sebagai aksen dekoratif ramah lingkungan tanpa menghilangkan karakter asli anyaman ketak. Hasilnya, lahir produk dengan tampilan lebih dinamis, berwarna, dan menarik perhatian, namun tetap mempertahankan nilai tradisi yang menjadi identitas utamanya.
Keindahan tas ketak semakin diperkaya dengan tambahan sentuhan mutiara Mabe (half pearl) yang memiliki kilau lembut dan bentuk khas. Dipadukan dengan balutan perak berkualitas serta desain eksklusif, unsur tersebut memberikan kesan mewah dan elegan pada produk yang sejatinya sederhana.
Perpaduan unsur alami, material daur ulang, serta ornamen bernilai tinggi ini menghadirkan harmoni baru dalam dunia kriya Nusantara menggabungkan tradisi, keberlanjutan, dan estetika modern dalam satu karya bernilai seni tinggi.
Di balik inovasi tersebut, terdapat peran aktif pelaku UMKM dari lingkungan Persit, di antaranya Dewi Istianti dan Baiq Ike Aprilia Mustanty. Keduanya tidak hanya menjadi penggerak usaha, tetapi juga agen pelestari budaya yang mampu mengangkat potensi lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Melalui platform digital seperti Instagram @galeri_wirabhakti162, @ibaiq29, serta TikTok, mereka terus memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkenalkan kekayaan kriya Lombok kepada masyarakat yang lebih luas.
Beralamat di kawasan Mataram dan Lombok Barat, usaha ini menjadi wujud nyata sinergi antara keluarga, organisasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dukungan keluarga serta semangat kebersamaan dalam Persit Kartika Chandra Kirana menjadi fondasi kuat dalam membangun usaha yang berkelanjutan.
Kini, produk Galeri Wira Bhakti 162 tidak hanya menjadi pelengkap gaya bagi pecinta wastra Nusantara, tetapi juga pilihan tepat sebagai hadiah bernilai seni maupun suvenir eksklusif. Dengan mengedepankan kreativitas, ketelitian, dan kualitas, tas ketak Lombok hadir sebagai simbol harmoni antara warisan budaya dan inovasi masa kini.
Pada akhirnya, tas ketak bukan sekadar produk kerajinan, melainkan narasi tentang bagaimana tradisi mampu beradaptasi, berkembang, dan tetap relevan di era modern. Dari Lombok untuk dunia, harmoni itu terus teranyam, menghadirkan keindahan yang berakar dari budaya dan menjulang ke panggung global.
*Red*




