JAKARTA, 1 November 2026, katamedia.co.id – Primaya Hospital Group berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan serta Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jakarta menggelar program bakti sosial operasi katarak bertajuk *Gerakan Jakarta Bebas Katarak, Bersama Kita Bisa*.
Program yang menjadi bagian dari peringatan World Sight Day 2026 tersebut bertujuan mempercepat akses pelayanan operasi bagi masyarakat, khususnya penderita katarak yang selama ini harus menunggu antrean tindakan medis hingga satu sampai dua bulan.
Pada tahap awal pelaksanaan, sebanyak 97 pasien menjalani operasi katarak di RSUD Pasar Minggu. Para pasien tersebut merupakan hasil skrining yang dilakukan di sejumlah rumah sakit umum daerah (RSUD) dan Primaya Hospital di wilayah Jakarta.
Pelaksanaan program ini turut melibatkan 40 puskesmas untuk melakukan pemeriksaan awal serta sekitar 19 dokter spesialis mata dari PERDAMI yang berkontribusi dalam proses pelayanan medis.

CEO Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali, CFA, FRM, mengatakan inisiatif tersebut merupakan bentuk kerja sama lintas sektor antara rumah sakit swasta, pemerintah, dan organisasi profesi untuk menjawab kebutuhan layanan kesehatan masyarakat.
Menurutnya, kolaborasi tersebut sejalan dengan komitmen Primaya Hospital dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia.
Ia berharap gerakan ini dapat menjadi contoh bahwa keterlibatan berbagai pemangku kepentingan mampu menghasilkan manfaat nyata, terutama dalam mempercepat penanganan penyakit katarak.
“Gerakan Jakarta Bebas Katarak, Bersama Kita Bisa merupakan wujud kolaborasi public-private partnership dalam menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat. Hal ini sejalan dengan komitmen Primaya Hospital untuk turut berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan masyarakat (public health) di Indonesia. Kami berharap inisiatif ini dapat menjadi contoh bahwa sinergi antara sektor swasta, asosiasi profesi, dan pemerintah mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat, salah satunya melalui percepatan penanganan katarak,” ujar Leona.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, saat ini terdapat sekitar 3.700 penderita katarak yang telah teridentifikasi. Sementara pada 2025, jumlah kasus yang menjadi target penanganan mencapai sekitar 11.000, termasuk penderita dari kelompok usia produktif.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, drg. Ani Ruspitawati, MM, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan berbagai pihak dalam mendukung program tersebut.
Ia menilai percepatan operasi katarak menjadi kebutuhan penting agar masyarakat yang mengalami gangguan penglihatan dapat segera memperoleh tindakan sesuai kondisi medisnya.
Ani juga menyoroti pentingnya penanganan bagi kelompok usia produktif. Pasalnya, gangguan penglihatan akibat katarak dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam bekerja maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Program ini menjadi istimewa karena melibatkan berbagai unsur, mulai dari Primaya Hospital, PERDAMI, hingga Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kami ingin memastikan semakin banyak penderita katarak dapat segera memperoleh penanganan. Hal ini penting, terutama bagi masyarakat usia produktif agar dapat kembali bekerja dan beraktivitas dengan lebih baik,” jelas Ani.
Di sisi lain, Ketua PERDAMI, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, mengingatkan bahwa kegiatan operasi katarak melalui bakti sosial tetap harus mengikuti prosedur medis dan mengutamakan keselamatan pasien.
Ia menjelaskan, calon penerima tindakan harus memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain berusia sekitar 20 hingga 75 tahun, memiliki kondisi fisik yang memungkinkan untuk menjalani operasi, serta mampu mengikuti arahan dokter selama tindakan berlangsung.
Hal tersebut diperlukan karena operasi dilakukan menggunakan bius lokal atau topikal sehingga komunikasi dan kerja sama antara pasien dengan dokter menjadi bagian penting dalam proses tindakan medis.
Sebagai upaya memperluas jangkauan pelayanan, Primaya Hospital Group juga mengajak lebih banyak rumah sakit swasta serta asosiasi rumah sakit swasta di Indonesia untuk bergabung dalam gerakan tersebut.
Melalui perluasan kemitraan, program Jakarta Bebas Katarak diharapkan tidak hanya menjangkau lebih banyak pasien, tetapi juga dapat mempercepat akses masyarakat terhadap layanan operasi katarak yang aman dan sesuai standar medis.
Leona menegaskan pihaknya terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi agar semakin banyak masyarakat memperoleh manfaat dari program tersebut.
Dengan sinergi antara pemerintah, rumah sakit, dan organisasi profesi, gerakan ini diharapkan menjadi salah satu langkah memperluas pelayanan kesehatan mata sekaligus membantu masyarakat kembali menjalani aktivitas secara optimal.
*Hadi*




