Kabupaten Tangerang, katamedia.co.id – Bunda Literasi Provinsi Banten Tinawati Andra Soni mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersinergi dalam meningkatkan budaya baca (literasi) masyarakat. Menurutnya, literasi harus menjadi gerakan bersama yang ditanamkan sejak dini, terutama dari lingkungan keluarga.
Hal itu disampaikan Tinawati Andra Soni usai menjadi keynote speaker sekaligus membuka kegiatan Capacity Building Pustakawan se-Banten di Hotel Novotel BSD, Kabupaten Tangerang, Senin (29/6/2026).
Tinawati mengatakan, perpustakaan bukan lagi sekadar tempat menyimpan buku. Perpustakaan kini telah berkembang menjadi ruang belajar, ruang berkarya, ruang berkolaborasi, sekaligus ruang tumbuhnya inovasi. Untuk itu, ia mengajak seluruh pihak membangun sinergi dalam mengembangkan perpustakaan sebagai sarana menumbuhkan budaya literasi di tengah masyarakat.
“Menumbuhkan minat-minat baca sejak dini, terutama dalam keluarga,” katanya.
Selain itu, Tinawati juga mendorong para pustakawan untuk terus bertransformasi menjadi pembelajar sepanjang hayat, fasilitator pengetahuan, sekaligus inspirator bagi masyarakat.
“Pustakawan dituntut meningkatkan kapasitas dirinya dalam memberikan layanan kepada masyarakat,” tuturnya.
Kepala Divisi Sistem Pembelajaran dan Perpustakaan Bank Indonesia (BI) Institut, Senorita Pritaningrum, mengatakan perkembangan teknologi digital yang begitu cepat menuntut peningkatan kapabilitas pustakawan.
“Kami menyadari bahwa di era disrupsi digital saat ini, perpustakaan tidak lagi hanya sekadar menjadi ruang koleksi buku atau tempat membaca yang nyaman yang harus kita siapkan, tapi juga dituntut untuk bisa bertransformasi menjadi pusat pembelajaran, inovasi, dan juga sumber ilmu pengetahuan yang mengikuti perkembangan zaman dan kemajuan teknologi,” katanya.
Senorita menambahkan, kebutuhan masyarakat terhadap akses informasi yang cepat dan akurat terus meningkat. Karena itu, kegiatan capacity building turut mengintegrasikan pengetahuan mengenai teknologi artificial intelligence (AI).
“Capacity building mengintegrasikan pengetahuan mengenai teknologi artificial intelligence,” tandasnya.
Namun demikian, menurutnya, secanggih apa pun teknologi, faktor manusia tetap menjadi unsur yang paling utama.
“Itulah mengapa penguatan growth mindset menjadi krusial. Kita membutuhkan para pustakawan yang tidak hanya ahli dalam mengelola sistem, tapi juga memiliki mentalitas yang terbuka terhadap perubahan, kreatif dalam memecahkan masalah, dan memiliki semangat untuk bisa terus belajar,” kata Senorita.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Banten Rawindra Ardiansyah menjelaskan, kegiatan Capacity Building Pustakawan berlangsung selama dua hari, 29–30 Juni 2026, dengan sistem hybrid, yaitu secara luring dan daring. Peserta berasal dari berbagai instansi perpustakaan di Provinsi Banten dengan tujuan meningkatkan kompetensi pustakawan.
“Kemajuan teknologi seperti AI atau Artificial Intelligence itu sudah harus kita manfaatkan untuk kita bisa lebih meningkatkan kualitas pelayanan kita, kemudian juga akses informasinya. Kemudian, kita ciptakan layanan-layanan perpustakaan yang lebih inovatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” kata Rawindra.
*Hadi*




