TANGERANG SELATAN, katamedia.co.id – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus memperkuat upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui penguatan peran keluarga dan masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk. Langkah tersebut ditegaskan dalam kegiatan Gebyar Jumantik memperingati ASEAN Dengue Day (ADD) 2026 yang mengangkat tema “Basmi Dengue Dengan 3M Plus dan Nol Kematian Akibat Dengue Melalui Program Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (GIRIJ)” di Aula Blandongan Lantai 4 Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan, Kamis (25/6/2026).
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengatakan, keberhasilan pengendalian DBD tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah atau tenaga kesehatan. Menurutnya, keterlibatan masyarakat hingga tingkat keluarga menjadi faktor penting dalam memutus rantai penyebaran penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut.
“Target kita adalah nol kematian akibat dengue. Kalau kasus DBD mungkin masih ada karena nyamuk ada di mana-mana, tetapi kematian akibat DBD harus bisa kita cegah bersama,” ujar Benyamin.
Data hingga Juni 2026 menunjukkan terdapat 209 kasus DBD di Kota Tangerang Selatan. Meski demikian, Pemkot Tangsel berhasil mempertahankan capaian nol kematian akibat DBD sejak tahun 2024.
Keberhasilan tersebut, kata Benyamin, tidak terlepas dari kerja sama berbagai pihak, mulai dari kader Jumantik, Pokja DBD, tenaga kesehatan hingga masyarakat yang aktif menjalankan program pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masing-masing.
Dalam kesempatan itu, Benyamin juga kembali mengingatkan bahwa fogging bukan langkah utama dalam mengatasi penyebaran DBD karena hanya membunuh nyamuk dewasa.
“Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menyelesaikan sumber masalah. Jentik dan telur nyamuk justru banyak ditemukan di tempat penampungan air bersih seperti bak mandi, wadah minum burung, bawah dispenser, bawah kulkas, hingga botol bekas yang menampung air hujan,” jelasnya.
Karena itu, masyarakat diminta untuk terus menjalankan gerakan 3M Plus secara rutin, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Benyamin menilai, peran keluarga menjadi kunci dalam upaya pencegahan karena penghuni rumah merupakan pihak yang paling mengetahui kondisi lingkungan tempat tinggalnya setiap hari.
“Di rumah itu semua harus jadi Jumantik. Bapak Jumantik, ibu Jumantik, anak Jumantik, bahkan asisten rumah tangga, sopir, dan satpam juga harus menjadi pemantau jentik. Karena yang bisa memeriksa setiap sudut rumah setiap hari adalah penghuni rumah itu sendiri,” katanya.
Sejak dikembangkan pada 2016, program Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (GIRIJ) terus diperkuat sebagai strategi utama pengendalian DBD di Tangerang Selatan. Pemerintah Kota Tangsel juga memberikan apresiasi kepada para kader Jumantik dan Pokja DBD yang selama ini aktif melakukan edukasi, survei jentik, serta pendampingan kepada masyarakat.
Selain itu, upaya pencegahan turut diperkuat melalui layanan kesehatan keliling “Ngider Sehat” yang kini berkembang menjadi “Ngider Sehat Premium” dengan dukungan tenaga medis dan fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
Pada tahun 2026, Pemkot Tangsel menargetkan 60 persen dari total 754 RW mampu melaksanakan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik dan memperoleh sertifikasi bebas jentik nyamuk. Namun, Benyamin menegaskan bahwa sertifikasi tersebut harus diikuti dengan pengawasan yang berkelanjutan agar lingkungan tetap terbebas dari potensi penyebaran DBD.
“Musuh kita jelas, yaitu nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD. Karena itu kita harus bergerak sebagai satu tim, mulai dari pemerintah, kader kesehatan, RT, RW, lurah, hingga masyarakat untuk memutus tempat berkembang biaknya nyamuk tersebut,” tegasnya.
Di akhir sambutannya, Benyamin mengajak masyarakat untuk menunjukkan kepedulian terhadap DBD melalui tindakan nyata dengan menjaga kebersihan lingkungan dan rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk di rumah masing-masing.
“Jangan bilang peduli DBD kalau belum melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk di rumah sendiri. Kalau kita sehat, keluarga sehat, lingkungan sehat, maka kualitas hidup masyarakat Tangerang Selatan juga akan meningkat,” pungkasnya.
Kegiatan Gebyar Jumantik ASEAN Dengue Day 2026 turut dihadiri perwakilan Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi Banten, jajaran Pemerintah Kota Tangerang Selatan, kader Jumantik, Pokja DBD, organisasi profesi kesehatan, serta berbagai mitra kesehatan yang mendukung upaya pengendalian dengue di Kota Tangerang Selatan.
*Hadi*




