Bedah Buku dan Literasi Jadi Sarana Bangun Prestasi di SMPN 2 Margasari

3 Menit Baca

TEGAL – Semangat literasi kembali digaungkan di SMP Negeri 2 Margasari, Kabupaten Tegal. Melalui kegiatan bertajuk “Pelatihan Peningkatan Literasi” dengan subtema “Kembangkan Prestasi dengan Literasi”, sekolah yang berlokasi di Jalan Raya Paku Laut ini menghadirkan suasana berbeda pada Sabtu pagi (13/4).

Penulis dan aktivis Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER), AJ Susmana, hadir sebagai narasumber tunggal dalam kegiatan yang diikuti sekitar 30 peserta terpilih. Selain pelatihan literasi, acara ini juga dirangkai dengan bedah novel sejarah karya AJ Susmana berjudul Menghadang Kubilai Khan, yang sebelumnya telah dibedah di berbagai kota di Indonesia.

Kepala SMPN 2 Margasari, Muhammad Muslimin, dalam sambutannya mengajak peserta untuk menyerap ilmu literasi secara sungguh-sungguh. Ia menekankan bahwa kemampuan literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, namun merupakan bekal penting untuk membentuk generasi pemimpin masa depan.

Baca Juga :  WTP Bukan Jaminan Kesejahteraan: Saatnya BPK dan Pemerintah Melihat Lebih Dalam

“Literasi bukan hal baru bagi kami. Di sini sudah ada Majalah Aksiroma dan kegiatan Sabtu Membaca yang rutin kami laksanakan,” jelasnya.

Menariknya, kehadiran AJ Susmana dalam kegiatan ini juga menjadi momen nostalgia bagi Elsih Lestari, guru senior di SMPN 2 Margasari. Ia mengungkapkan bahwa AJ Susmana adalah mantan siswanya saat mengajar di SMP Kristen 7 Pedan Klaten.

Dalam workshop yang berlangsung hingga pukul 12.00 siang itu, AJ Susmana membagikan pengalaman pribadinya tentang bagaimana keberanian menulis menjadi langkah awal untuk tumbuh sebagai penulis. Ia juga menekankan pentingnya menulis buku harian sebagai latihan disiplin dan gudang inspirasi, merujuk pada contoh ikonik: Anne Frank.

Baca Juga :  Ketua Komisi III DPRD Lamsel, Tuti Rama Yanti Gelar IPWK di Desa Sukamaju

“Menulis itu soal keberanian. Dan jangan takut salah. Yang penting, tulisan kita tidak menyebar kebencian atau menyerang SARA,” pesannya.

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif. Peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar cara mengatasi kemalasan menulis, mencari ide, hingga mengelola waktu. Dari diskusi tersebut, teridentifikasi empat tantangan utama dalam menulis: kehabisan ide, kurang referensi, minimnya rasa percaya diri, dan keterbatasan waktu.

Menurut AJ Susmana, rasa tidak percaya diri adalah tantangan terbesar. Ia menyarankan agar penulis pemula meminta bantuan teman dekat atau orang yang bisa dipercaya untuk memberi masukan konstruktif terhadap tulisan mereka.

Baca Juga :  HUT ke-32 JAKER: Perkuat Budaya, Lawan Ketimpangan dan “Serakahnomics”

“Kalau kita berhenti menulis, kita kembali ke zaman pra sejarah. Menulis adalah bukti eksistensi, sebagaimana pesan Pramoedya Ananta Toer: menulis agar tak hilang ditelan zaman,” ujarnya.

Sebagai penutup workshop, peserta diberi waktu 30 menit untuk menulis bebas. Hasil tulisan kemudian dibacakan dan dikritisi bersama. Empat karya berhasil dibacakan: satu puisi, satu opini, dan dua cerpen—meski salah satunya lebih dianggap sebagai kisah perjalanan.

Kegiatan literasi ini tidak hanya meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta, tapi juga memperkuat komitmen SMPN 2 Margasari dalam membangun budaya baca dan tulis sebagai pondasi prestasi.(Adt/BO)

Bagikan Artikel Ini