SERPONG, katamedia.co.id – Yayasan Rumah Cerebral Palsy mendesak pemerintah memperkuat dukungan bagi keluarga yang memiliki anak penyandang cerebral palsy (CP), terutama dalam pemenuhan kebutuhan terapi, alat bantu khusus, dan kesejahteraan keluarga. Pasalnya, sekitar 70 persen anggota komunitas yang didampingi yayasan tersebut berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
Desakan itu disampaikan dalam peringatan *World Cerebral Palsy Day 2026* yang digelar di atrium Mall Teras Kota, Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Minggu (25/10/2026). Kegiatan tersebut menjadi sarana edukasi publik sekaligus menyuarakan kebutuhan anak penyandang CP dan keluarga yang merawat mereka.
Ketua Yayasan Rumah Cerebral Palsy, Iis R. Soelaeman, mengatakan kegiatan tahunan tersebut bertujuan memperkenalkan cerebral palsy kepada masyarakat luas sekaligus meningkatkan pemahaman terhadap kondisi dan tantangan yang dihadapi anak-anak penyandang CP.
Menurut Iis, peringatan World Cerebral Palsy Day secara global jatuh setiap 6 Oktober. Namun, yayasan baru dapat mengadakan kegiatan peringatan tahun ini pada 25 Oktober.
Ia menjelaskan, pemilihan pusat perbelanjaan sebagai lokasi acara dilakukan agar masyarakat dapat melihat secara langsung keberadaan anak-anak penyandang CP dan memahami kehidupan mereka. Pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan serupa digelar di ruang terbuka melalui kegiatan *car free day*. Tahun ini, penyelenggara memilih lokasi dalam ruangan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca.
“Tujuannya adalah membangun kesadaran masyarakat umum tentang keberadaan kami. Kami harus mengenalkan siapa itu cerebral palsy dan seperti apa kondisi anak-anaknya,” kata Iis di sela-sela kegiatan.
Kebutuhan Alat Bantu Khusus Jadi Beban Keluarga
Di balik upaya meningkatkan kesadaran publik, Iis menyoroti persoalan ekonomi yang dihadapi keluarga anak penyandang CP. Ia menyebut sebagian besar anak yang didampingi komunitas membutuhkan dukungan intensif, sehingga memerlukan perawatan dan pendampingan berkelanjutan.
Kebutuhan tersebut tidak hanya mencakup biaya hidup sehari-hari, tetapi juga pembiayaan terapi, perawatan, serta pengadaan alat bantu yang sesuai dengan kondisi masing-masing anak.
Salah satu kebutuhan penting adalah kursi roda khusus. Menurut Iis, sebagian anak penyandang CP membutuhkan kursi roda yang dirancang secara khusus atau *custom* agar sesuai dengan kondisi fisik dan kebutuhan mereka.
Biaya pengadaan alat bantu tersebut dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga yang memiliki keterbatasan finansial.
“Alat bantunya tidak sedikit dan cukup mahal. Kursi rodanya sendiri dibuat secara khusus. Karena itu, kami sangat membutuhkan dukungan pemerintah untuk pengadaan alat-alat bantu dan kesejahteraan orang tua,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan program bantuan yang lebih konkret dan tepat sasaran, sehingga keluarga kurang mampu tidak kesulitan memenuhi kebutuhan dasar maupun perawatan anak mereka.
Yayasan Soroti Keberlanjutan Terapi
Selain alat bantu, keberlanjutan terapi menjadi perhatian utama yayasan. Iis mengaku menerima informasi mengenai pembatasan atau penghentian pembiayaan terapi hingga anak berusia tujuh tahun.
Ia menilai kebutuhan terapi anak penyandang CP tidak dapat disamaratakan berdasarkan batas usia. Pendampingan harus disesuaikan dengan kondisi medis dan kebutuhan masing-masing anak.
Menurutnya, terapi yang berkelanjutan berperan dalam membantu anak mempertahankan kemampuan fungsional dan mendukung kualitas hidup mereka.
“Anak-anak cerebral palsy itu terapinya akan terus, supaya tidak mengalami kemunduran lagi,” kata Iis.
Karena itu, ia meminta pemerintah memperhatikan kesinambungan layanan terapi, terutama bagi keluarga yang tidak memiliki kemampuan untuk membiayai perawatan secara mandiri.
Meski demikian, informasi mengenai batas usia dan pembiayaan terapi tersebut masih memerlukan konfirmasi dari instansi terkait untuk memastikan ketentuan, cakupan layanan, serta persyaratan penerima manfaat.
Minta Dukungan Nyata Pemerintah dan Masyarakat
Iis mengatakan pelaksanaan World Cerebral Palsy Day 2026 turut mendapat dukungan dari sejumlah pihak. Ia menyebut yayasan telah melakukan audiensi dengan perwakilan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial, termasuk Ibu Fatma, serta memperoleh dukungan dari unsur Kementerian Sosial dan dinas yang menangani kesejahteraan sosial.
Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar kebutuhan anak penyandang CP dan keluarganya dapat ditangani melalui kerja sama lintas sektor.
Ia berharap dukungan pemerintah tidak hanya hadir dalam kegiatan seremonial, tetapi diwujudkan melalui program yang menjawab persoalan di lapangan, mulai dari akses terapi dan alat bantu hingga peningkatan kesejahteraan orang tua.
Iis juga mengajak media massa menyampaikan informasi mengenai penyandang CP secara positif dan berimbang. Pemberitaan yang tepat diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat serta mengurangi stigma terhadap penyandang disabilitas.
“Saya berharap kita bisa bersama-sama, baik dari komunitas, media yang memberitakan secara positif, masyarakat yang bisa menerima keberadaan kami, maupun pemerintah yang mendukung secara nyata,” ujarnya.
Sebanyak 1.094 Anak Tercatat dalam Pendataan Komunitas
Dalam keterangannya, Iis menyebut terdapat 1.094 anak penyandang CP yang tercatat dalam lingkup komunitas atau pendataan yang dirujuknya di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).
Menurutnya, data tersebut menjadi pengingat bahwa perhatian terhadap anak penyandang CP dan keluarga mereka perlu terus diperluas.
Namun, angka tersebut merupakan data yang disampaikan narasumber dan belum dapat dipastikan sebagai jumlah keseluruhan anak penyandang CP di Jabodetabek. Cakupan, periode, dan metode pendataan masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut.
Iis menegaskan, kebutuhan anak penyandang CP tidak terbatas pada layanan kesehatan. Aksesibilitas, alat bantu, penerimaan masyarakat, dukungan sosial, serta kemampuan keluarga membiayai perawatan jangka panjang juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Melalui peringatan World Cerebral Palsy Day 2026, Yayasan Rumah Cerebral Palsy berharap kepedulian masyarakat dapat berkembang menjadi dukungan yang berkelanjutan.
Bagi keluarga yang mendampingi anak penyandang CP, tantangan tidak berhenti pada mendapatkan pengakuan dan penerimaan masyarakat. Mereka juga membutuhkan akses terapi yang berkesinambungan, alat bantu sesuai kebutuhan, serta dukungan kesejahteraan agar anak dapat memperoleh perawatan secara optimal.
*Hadi*




