Oleh: Uten Sutendy — Budayawan & Wartawan
TANGERANG SELATAN – Dalam suasana reflektif memperingati Hari Pahlawan, kegiatan Ngopi Sewarung kali ini menghadirkan perbincangan hangat namun sarat makna tentang sosok Presiden RI Kedua, Jenderal Soeharto.
Tokoh yang pernah dijuluki diktator oleh kelompok reformis 1998 dan dituding “pengkhianat” oleh keluarga besar Bung Karno itu, kini justru kembali diperbincangkan sebagai calon Pahlawan Nasional yang dinilai berjasa besar bagi pembangunan bangsa.
Suka atau tidak, sejarah mencatat bahwa Soeharto adalah figur penting di balik fondasi pembangunan ekonomi nasional dan stabilitas politik Indonesia di masa Orde Baru. Ia juga dikenal sebagai sosok yang terlibat langsung dalam pertempuran melawan agresi Belanda kedua serta berperan besar dalam penumpasan Gerakan 30 September PKI (G30S/PKI).
Namun, sebagaimana sejarah tak pernah tunggal, pro dan kontra terhadap warisan Soeharto terus bergulir.
Sebagian kalangan menilai penguasaannya selama 32 tahun sarat pelanggaran HAM dan pembungkaman kebebasan pers, sementara sebagian lain memandangnya sebagai arsitek pembangunan nasional yang meletakkan dasar kemajuan ekonomi modern Indonesia.
“Sejarah telah membuktikan bahwa gelombang energi kebaikan yang pernah dilakukan Pak Harto jauh lebih besar daripada energi yang menentangnya,” ujar saya dalam refleksi pribadi di forum Ngopi Sewarung, mengenang perjalanan panjang bangsa ini.
Saya termasuk yang pernah menjadi bagian dari mereka yang terluka di masa Orde Baru.
Sebagai jurnalis muda kala itu, tulisan-tulisan kritis saya terhadap kebijakan pemerintah membuat saya kehilangan pekerjaan, kehilangan ruang berekspresi, bahkan hidup terlunta di negeri orang.
Karya saya dibungkam, nama saya dihapus, dan hidup saya sempat berhenti di tengah jalan perjuangan.
Namun waktu dan perenungan panjang akhirnya membawa saya pada kesadaran baru. Bahwa dendam pribadi tak boleh menutupi kebenaran sejarah, dan rasa sakit individu tak sebanding dengan jasa besar seseorang terhadap bangsanya.
“Kekecewaan dan dendam pribadi tak boleh menjadi penghalang seseorang untuk menghargai orang lain yang jasanya lebih besar dari yang pernah kita lakukan untuk bangsa, umat manusia, dan masa depan,” saya tekankan lagi dalam forum itu.
Kini, ketika wacana penobatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional kembali mencuat, saya memilih berdamai dengan masa lalu. Saya menyetujui langkah itu, bukan karena melupakan luka, tetapi karena memahami bahwa sejarah bangsa lebih besar dari luka pribadi.
Sampai pagi ini, air mata masih menetes setiap kali saya mengenang masa itu. Bukan lagi karena amarah, melainkan karena kelegaan untuk mengikhlaskan dan memaafkan, demi masa depan bangsa yang lebih bijak dalam membaca sejarahnya sendiri.
“Get the feeling,” tulis saya dalam catatan kecil pagi ini — sebuah pengingat bahwa menjadi pahlawan bukan berarti tanpa cela, tapi tentang bagaimana kebaikan tetap meninggalkan jejak, bahkan setelah badai perdebatan berlalu.
(***)



