SERANG, katamedia.co.id – Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Banten Tinawati Andra Soni menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter dan kebiasaan anak, meski lingkungan sekolah juga memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan suasana belajar yang sehat, aman, dan nyaman.
Hal tersebut disampaikan Tinawati Andra Soni saat meninjau sekaligus melakukan penilaian Lomba Sekolah Sehat Tingkat Provinsi Banten Tahun 2026 di SMA Negeri 6 Kota Serang, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Jumat (18/9/2026).
Menurut Tinawati, sekolah merupakan tempat yang dipercaya para orang tua untuk mendampingi proses tumbuh kembang dan pendidikan anak. Karena itu, lingkungan pendidikan harus dibangun secara bersama agar peserta didik dapat belajar dalam kondisi yang memberikan rasa aman dan nyaman.
“Saya memiliki anak sekolah juga yang artinya saya menitipkan anak saya di sekolah. Tentu saja kita ingin memiliki lingkungan sekolah yang aman dan nyaman,” ungkap Tinawati Andra Soni.
Ia mengatakan, setiap kesempatan mengunjungi sekolah dimanfaatkannya untuk mengingatkan pentingnya membangun lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan anak. Menurutnya, suasana sekolah turut berpengaruh terhadap pembentukan karakter peserta didik.
“Apalagi sekolah adalah tempat yang kami percaya dan kami yakini bahwa di situlah anak-anak tumbuh dan belajar untuk menjadi karakter yang lebih kuat,” katanya.
Namun, Tinawati menegaskan bahwa proses pendidikan paling awal tetap berlangsung di dalam keluarga. Peran orang tua sejak dari rumah dinilai penting dalam memberikan pendampingan, perhatian, serta pembentukan nilai-nilai bagi anak.
“Madrasah pertama, pendidikan pertama tetap di rumah,” imbuhnya.
Ia juga mengajak orang tua tidak berhenti pada upaya memilih sekolah yang dinilai baik, tetapi ikut terlibat dalam perjalanan pendidikan anak. Pendampingan keluarga diperlukan agar proses pendidikan yang berlangsung di sekolah dapat berjalan sejalan dengan pembinaan di rumah.
Dalam kunjungan tersebut, Tinawati juga berkesempatan berinteraksi dengan sejumlah siswa dari luar daerah yang mengikuti program afirmasi pendidikan menengah. Keberadaan mereka, menurutnya, menunjukkan adanya kesempatan pendidikan yang dapat diakses oleh anak-anak dari berbagai wilayah.
“Artinya bahwa setiap anak Indonesia memiliki hak yang sama, memiliki pendidikan yang berkeadilan,” jelasnya.
Tinawati kemudian mengajak keluarga dan sekolah membangun budaya sehat melalui kebiasaan sederhana. Salah satunya dengan membangun komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak.
Ia mendorong orang tua untuk tidak hanya menanyakan aktivitas anak di sekolah, tetapi juga memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan pengalaman dan perasaannya selama menjalani kegiatan pendidikan.
“Kita harus bisa mendengarkan anak, kita harus bisa membersamai anak kita, kemudian kita bertanya hal-hal sederhana, bagaimana di sekolah, bagaimana kegiatan mereka, terutama bagaimana perasaan mereka hari ini,” katanya.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 6 Kota Serang Rohmat Wirandanubrata mengatakan, terciptanya sekolah sehat membutuhkan keterlibatan seluruh unsur yang berada di lingkungan pendidikan. Menurutnya, komitmen bersama menjadi dasar dalam membangun suasana sekolah yang aman dan mendukung kegiatan belajar.
“Komitmen untuk mewujudkan sekolah sehat itu harus dilakukan secara bersama-sama. Kita bangun juga penyamaan visi dari seluruh stakeholder yang ada di sekolah ini,” ujar Rohmat.
Ia menjelaskan, ketika seluruh warga sekolah memiliki komitmen dan rasa tanggung jawab yang sama, berbagai program dapat dijalankan secara lebih konsisten karena tumbuh dari kesadaran bersama.
Salah satu program yang diterapkan SMA Negeri 6 Kota Serang berkaitan dengan edukasi pengelolaan sampah melalui Sataku dan Satamu. Program tersebut mendorong siswa memahami bahwa sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari merupakan tanggung jawab yang harus dikelola dengan baik.
“Sataku, Satamu, mewujudkan sampah tanggung jawabmu, sampah tanggung jawabku. Itu mengedukasi anak-anak bagaimana anak itu punya tanggung jawab,” katanya.
Rohmat menambahkan, penerapan konsep sekolah sehat tidak hanya berdampak terhadap kondisi lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat bagi siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Lingkungan yang sehat dan nyaman dapat mendukung kesehatan fisik sekaligus memberikan suasana psikologis yang lebih baik bagi peserta didik selama mengikuti pembelajaran.
“Mereka juga akan diajarkan bagaimana mereka peduli pada kesehatan diri mereka sendiri dan lingkungan di mana mereka belajar,” katanya.
Dengan demikian, upaya mewujudkan sekolah sehat di Banten tidak hanya bertumpu pada penyediaan fasilitas, tetapi juga membutuhkan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan seluruh warga satuan pendidikan dalam membangun kebiasaan hidup sehat serta lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
*Hadi*




