Karhutla Meluas di Sumatra dan Kalimantan, Enam Provinsi Jadi Prioritas BNPB

7 Menit Baca

JAKARTA, katamedia.co.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali muncul di sejumlah wilayah Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat beberapa kejadian baru sepanjang 4 hingga 5 September 2026, di tengah kondisi musim kemarau yang masih berlangsung.

Situasi tersebut mendorong BNPB bersama pemerintah daerah dan berbagai unsur terkait untuk meningkatkan langkah penanganan. Upaya dilakukan melalui pemadaman langsung di lokasi, pendinginan, patroli udara hingga pemantauan titik panas guna mencegah api meluas.

Sejumlah daerah yang dilaporkan mengalami karhutla antara lain Kabupaten Belitung Timur dan Kabupaten Bangka Barat di Kepulauan Bangka Belitung, Kabupaten Bulungan di Kalimantan Utara, Kabupaten Ponorogo di Jawa Timur serta Kabupaten Tojo Una-Una di Sulawesi Tengah.

Di Belitung Timur, kebakaran pada Jumat (4/9) menghanguskan lahan sekitar 17,81 hektare. Api tersebar di Desa Buding, Kecamatan Kelapa Kampit, Desa Padang, Kecamatan Manggar, serta Desa Sukamandi, Kecamatan Damar. Petugas gabungan berhasil melakukan pemadaman dan dilanjutkan dengan pendinginan sampai situasi terkendali.

Kebakaran di Bangka Barat terjadi sehari sebelumnya dengan luasan sekitar 8,5 hektare. Api membakar sejumlah titik di Kecamatan Muntok, yakni Desa Air Putih, Kelurahan Sungai Daeng, Desa Air Belo dan Kelurahan Tanjung. Penanganan dilakukan BPBD bersama petugas pemadam dan api telah berhasil dipadamkan.

Di Bulungan, Kalimantan Utara, kebakaran dilaporkan terjadi pada Kamis (3/9) pagi. Luas area terdampak diperkirakan mencapai sembilan hektare, terdiri dari sekitar delapan hektare di Desa Mangkupadi, Kecamatan Tanjung Palas Timur, serta satu hektare di Kelurahan Tanjung Selor Timur, Kecamatan Tanjung Selor.

Baca Juga :  Karhutla Riau Ditangani Terpadu, Presiden Prabowo Apresiasi Kolaborasi Lintas Unsur

Petugas gabungan kemudian melakukan pemadaman dan pendinginan. Setelah api berhasil dikendalikan pada Jumat (4/9), proses pendinginan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api atau titik panas yang berpotensi menimbulkan kebakaran susulan.

Sementara itu, karhutla di Kabupaten Ponorogo melanda sekitar empat hektare kawasan hutan di wilayah RPH Bungkal, BKPH Ponorogo Timur, KPH Lawu DS. Lokasi berada di Desa Gunung Wari, Kecamatan Bungkal, dan relatif jauh dari permukiman warga. Tim gabungan bersama Perhutani melakukan pengawasan dan memastikan api tidak merambat ke wilayah lain hingga akhirnya berhasil dipadamkan.

Kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Kebakaran di kawasan Hutan Gunung Kendeng masih dalam proses penanganan dan diperkirakan telah berdampak pada sekitar 13 hektare lahan.

Lokasi kebakaran mencakup Desa Malotong, Kecamatan Ampana, serta Desa Sukamaju dan Desa Balingara di Kecamatan Ampana Tete. Medan yang sulit dan akses menuju titik kebakaran menjadi tantangan petugas. Pergerakan api terus dipantau untuk mencegah penjalaran menuju kawasan gunung maupun mendekati permukiman.

Di luar kejadian tersebut, BNPB masih memprioritaskan penanganan karhutla di enam provinsi, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat.

Riau menjadi salah satu wilayah dengan luasan kebakaran paling besar. Berdasarkan data hingga 4 September 2026, luas lahan yang terbakar sejak awal tahun mencapai sekitar 18.882,16 hektare dan tersebar di 10 kabupaten serta dua kota.

Baca Juga :  KPK Bongkar Dugaan Korupsi Dana Bencana BNPB, Uang Tunai hingga Emas Disita

Penanganan dilakukan melalui pengerahan personel di darat serta dukungan operasi udara. BNPB menyiagakan satu helikopter patroli, satu pesawat patroli sekaligus pendukung OMC, serta lima helikopter untuk pelaksanaan water bombing.

Operasi udara dilakukan dengan mengacu pada hasil pemantauan dan lokasi fire spot yang teridentifikasi. Sejumlah kawasan di Pelalawan dan Bengkalis masih menjadi perhatian karena terdapat titik yang membutuhkan pemadaman dan pendinginan, terutama pada area lahan gambut.

Di Sumatera Selatan, luas lahan terbakar hingga pembaruan 3 September tercatat sekitar 1.926,23 hektare. Pemantauan melalui satelit mendeteksi ratusan titik panas dengan tingkat kepercayaan berbeda. Sebanyak 92 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, 1.424 titik tingkat sedang dan 40 titik tingkat rendah.

Kondisi udara di sejumlah wilayah juga dilaporkan berada pada kategori sedang hingga sangat tidak sehat. Jarak pandang di beberapa lokasi tercatat maksimal sekitar tujuh kilometer. Ogan Komering Ilir, Banyuasin dan Musi Banyuasin menjadi sejumlah wilayah yang mendapat perhatian lebih dalam pemetaan penanganan.

Di Jambi, pemerintah provinsi menetapkan status Siaga Darurat karhutla hingga 30 November 2026. Kabupaten Tanjung Jabung Timur juga berada dalam status siaga. Pemantauan pada 3 September mencatat 266 titik panas di Jambi berdasarkan data satelit BMKG.

Kalimantan Tengah turut menjadi wilayah yang terus dipantau. Status Siaga Darurat karhutla tingkat provinsi berlaku hingga 31 Oktober 2026. Sejumlah kabupaten dan kota juga telah memiliki status penanganan karhutla sesuai perkembangan situasi di daerah masing-masing.

Baca Juga :  Cegah Stunting, Tangsel Perkuat Gerakan Gemar Makan Ikan

Di Kalimantan Selatan, pemerintah daerah menetapkan status Siaga Darurat karhutla dan kekeringan sejak 6 Juli sampai 31 Oktober 2026. Beberapa wilayah seperti Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar juga menjadi bagian dari penanganan.

Sementara Kalimantan Barat masih berada dalam periode Siaga Darurat karhutla hingga 15 November 2026. Selain itu, status tanggap darurat tingkat provinsi berlaku hingga 6 September 2026. Penanganan dilakukan di sejumlah daerah yang dinilai rawan, termasuk Kubu Raya, Mempawah, Sanggau, Kayong Utara, Melawi, Sintang, Ketapang dan Landak.

BNPB menegaskan penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman. Patroli, pemantauan titik panas dan pendinginan menjadi bagian penting untuk mencegah api kembali muncul setelah berhasil dikendalikan.

Upaya tersebut semakin diperkuat di wilayah gambut dan lokasi dengan akses terbatas. Kondisi medan serta cuaca menjadi faktor yang harus diperhitungkan agar penanganan dapat dilakukan secara efektif.

BNPB mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Warga juga diminta tidak menggunakan metode pembakaran saat membuka lahan serta segera melaporkan apabila menemukan api, asap atau titik panas yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran lebih besar.Saya bisa buatkan juga versi yang lebih padat 7–9 paragraf, cocok untuk portal berita online dan tetap mempertahankan data utama.

*BNPB*

DITANDAI:
Bagikan Artikel Ini