Lestarikan Kain Poleng, Jro Tunjung Tekankan Pentingnya Harmoni Sekala dan Niskala

2 Menit Baca

Denpasar, katamedia.co.id – Kain poleng sebagai salah satu simbol khas Pulau Bali tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap adat, tetapi juga mengandung makna filosofis mendalam tentang keseimbangan alam semesta. Di Pulau Seribu Pura, kain bermotif kotak-kotak ini kerap dijumpai di berbagai tempat sakral, seperti pura hingga pepohonan yang diyakini memiliki nilai spiritual tinggi.

Masyarakat Bali memaknai kain poleng sebagai simbol keharmonisan antara dua kekuatan yang berlawanan, yakni baik dan buruk. Selain digunakan dalam upacara keagamaan, kain ini juga sering dikenakan oleh pecalang sebagai identitas sekaligus bentuk perlindungan secara niskala. Keberadaannya menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Baca Juga :  Gubernur Andra Soni: Tidak Ada yang Boleh Intervensi Proses SPMB

Penekun spiritual asal Bali, Jro Tunjung, menjelaskan bahwa kain poleng memiliki tiga warna utama, yaitu hitam, putih, dan abu-abu yang merepresentasikan konsep Rwa Bhineda. Menurutnya, warna hitam dan putih melambangkan dua sisi kehidupan seperti suka dan duka, sementara abu-abu menjadi penengah yang mengajarkan ketenangan dan kebijaksanaan.

Ia pun mengajak masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan penggunaan senteng poleng maupun wastra poleng sebagai bagian dari warisan leluhur Bali. Kain poleng, lanjutnya, tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi simbol penting dalam menjaga keseimbangan alam serta mempererat hubungan manusia dengan semesta.

Baca Juga :  Kodam IX/Udayana Perkuat Sinergi dengan Media Lewat Simakrama di Denpasar

“Melalui pelestarian kain poleng, kita tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga merawat harmoni kehidupan agar tetap seimbang antara sekala dan niskala,” tutupnya.

*Hadi*

DITANDAI:
Bagikan Artikel Ini